Ernest
Minggu, 29 Januari 2012 16:17
|
Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengingatkan berbagai pihak untuk mewaspadai dan mengantisipasi sejumlah potensi konflik di Tanah Air. Hal itu disampaikan Anas dalam keterangan pers di Jakarta, Ahad (29/1).
Anas menyebutkan beberapa potensi konflik yang perlu diwaspadai. Pertama, konflik agraria yang terkait dengan perkebunan dan pertambangan. "Kasus Mesuji dan Bima adalah contoh yang nyata," kata Anas. Potensi konflik ini tersebar di banyak tempat dan banyak daerah. Konflik agraria bisa keras karena tanah berdimensi banyak, antara lain, ekonomi, martabat dan magis.
Kedua, konflik perburuhan. Kasus di Bekasi adalah salah satu contohnya. "Alhamdulillah, bisa ditemukan solusi dan kesepakatan dng para pengusaha," katanya. Potensi sengketa buruh dan pengusaha juga ada di daerah-daerah lain. Karena itu, iklim industrial dan relasi buruh-pengusaha harus terus diperbaiki dengan azas kesejahteraan buruh dan kelangsungan bisnis sehat.
Ketiga, konflik yang bertendensi SARA. Sebagai bangsa yang majemuk potensi konflik SARA tak terhindarkan. Tradisi pluralisme dan semangat hidup harmoni dalam perbedaan harus terus ditanamkan. "Termasuk kepatuhan pada ketentuan dan putusan hukum, jika ada masalah yang muncul di tengah masyarakat," katanya.
Keempat, konflik yang muncul akibat kemiskinan dan pengangguran. Konflik yang bertendensi "kelas" ini bisa berbahaya. "Kita bersyukur angka kemiskinan dan pengangguran menurun," katanya. Namun demikian, kata Anas, kewaspadaan dan antisipasi terhadap soal ini harus sangat serius, di samping kerja keras Pemerintah dan semua pihak untuk terus menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran dengan program pro-rakyat.
Kelima, konflik politik yang muncul sebagai residu dari kompetisi politik, baik di tingkat nasional maupun lokal. Residu politik pilkada, misalnya, terbukti menjadi masalah yang serius. Kadangkala dipicu oleh penyelenggaraan pilkada yang kurang baik dan ketidakdewasaan elit dalam menyikapi proses dan hasil pilkada.
Keenam, berbagai potensi ancaman konflik tersebut bisa menjadi gangguan terhadap kesempatan emas pasca Indonesia masuk ke jajaran negara layak investasi. Karena itulah harus benar-benar diwaspadai, diantisipasi dan dikelola dengan cermat. "Jangan sampai meledak dimana-mana," kata Anas. (Ant/DOR)
|